Memaparkan catatan dengan label bahan drpd FB. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label bahan drpd FB. Papar semua catatan

Jumaat, 19 Julai 2013

Mandi wajib/Mandi Junub

19072013

Bertemu lagi kita di Hari Jumaat, Penghulu segala hari. Hari Jumaat kedua dalam bulan puasa pada tahun 2013 dan bermakna kita telah masuk ke hari 10 bulan Ramadan. Terlalu cepat masa berlalu meninggalkan seribu kenangan selama 9 hari berada dalam bulan Ramadan.

Kali ini aku ingin berkongsi bahan yang disedut daripada http://cinikironk.blogspot.com/2013/01/tata-cara-mandi-junubjanabah.html untuk tatapan bersama. Ia berkaitan dengan mandi wajib yang perlu kita ketahui tacaranya agar ibadah kita diterima Allah SWT.

Mandi wajib/Mandi Junub 

Mandi Wajib/Mandi Junub/Mandi Hadas besar adalah mandi yang seharusnya dilakukan oleh seseorang Muslim untuk membersihkan dirinya dari hadas besar dan melibatkan perbuatan membasuh/mandi dengan membasahi/ mengguyurkan air ke seluruh seluruh anggota badan.

Mandi janabah/mandi wajib memiliki dua cara:

1. Cara yang sederhana.


Tata cara mandi janabah/junub secara sederhana namun telah mencukupi/sah adalah cukup dengan mengucapkan ataupun berniat dalam hati, kemudian mengguyurkan/menyiramkan air ke seluruh tubuh secara merata hingga mengenai seluruh rambut dan kulitnya. (Lihat Al-Minhaj, 3/228)

2. Cara yang sempurna.

Mandi janabah/wajib secara sempurna terdiri dari beberapa langkah yakni :

1. Niat

Sebelum memulai mandi janabah, maka suatu kewajiban untuk berniat dalam hati. Karena niat merupakan pembeda antara mandi biasa dengan mandi wajib. Hal ini dipertegas dengan sabdah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ
قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan" (HR. Bukhari No. 1)

2. Mencuci kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam wadah air

Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

“Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,bahwa jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mandi karena janabat, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya." (HR Bukhari no. 240, Muslim no. 474)


Mencuci bersih kedua telapak tangan dan dilakukan setidaknya sebanyak 2 (dua) atau 3 (tiga) kali. Hal ini tertera dalam riwayat lainnya dari Maimunah radhiyallahu ‘anha ;:

و حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ حَدَّثَنِي عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ حَدَّثَتْنِي خَالَتِي مَيْمُونَةُ قَالَتْ
أَدْنَيْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غُسْلَهُ مِنْ الْجَنَابَةِ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ ثُمَّ أَفْرَغَ بِهِ عَلَى فَرْجِهِ وَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ ثُمَّ ضَرَبَ بِشِمَالِهِ الْأَرْضَ فَدَلَكَهَا دَلْكًا شَدِيدًا ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ مِلْءَ كَفِّهِ ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ثُمَّ تَنَحَّى عَنْ مَقَامِهِ ذَلِكَ فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِالْمِنْدِيلِ فَرَدَّهُ
و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ وَالْأَشَجُّ وَإِسْحَقُ كُلُّهُمْ عَنْ وَكِيعٍ ح و حَدَّثَنَاه يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ كِلَاهُمَا عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَلَيْسَ فِي حَدِيثِهِمَا إِفْرَاغُ ثَلَاثِ حَفَنَاتٍ عَلَى الرَّأْسِ وَفِي حَدِيثِ وَكِيعٍ وَصْفُ الْوُضُوءِ كُلِّهِ يَذْكُرُ الْمَضْمَضَةَ وَالِاسْتِنْشَاقَ فِيهِ وَلَيْسَ فِي حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ ذِكْرُ الْمِنْدِيلِ

"Telah menceritakan kepadaku Ali bin Hujras-Sa'di telah menceritakan kepadaku Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami al-A'masy dari Salim bin Abi al-Ja'di dari Kuraib dari Ibnu Abbas dia berkata, "Bibiku, Maimunah telah menceritakan kepadaku, dia berkata, 'Aku pernah membawa air mandi kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam karena junub, Lalu beliau membasuh dua tapak tangan sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangan ke dalam wadah berisi air, lalu menyiramkan air tersebut ke atas kemaluan serta membasuhnya dengan tangan kiri. Setelah itu, beliau menggosokkan tangan kiri ke tanah dengan pijatan yang kuat, lalu berwudhu sebagaimana yang biasa dilakukan untuk mendirikan shalat. Kemudian beliau menuangkan air yang diciduk dengan dua telapak tangan ke kepala sebanyak tiga kali sepenuh telapak tangan. Lalu beliau membasuh seluruh tubuh, lalu beralih dari tempat tersebut dan membasuh kedua kaki, kemudian aku mengambilkan handuk untuk beliau, tetapi beliau menolaknya." Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ash-Shabbah, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Abu Kuraib, al-Asyajj, dan Ishaq semuanya dari Waki' --lewat jalur periwayatan lain--, dan telah menceritakan kepada kami tentangnya Yahya bin Yahya dan Abu Kuraib keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah keduanya dari al-A'masy dengan sanad ini, dan tidaklah dalam hadits keduanya lafazh, "Menyiramkan air tiga kali sepenuh telapak tangan pada kepala." Dan dalam hadits Waki' terdapat gambaran wudhu seluruhnya. Dia menyebutkan berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Dan dalam hadits Abu Mu'awiyah tidak menyebutkan handuk."(HR. Muslim no. 476)

3. Mencuci kemaluan dengan tangan kiri

Riwayat dari Maimunah radhiyallahu ‘anha:

"Telah menceritakan kepadaku Ali bin Hujras-Sa'di telah menceritakan kepadaku Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami al-A'masy dari Salim bin Abi al-Ja'di dari Kuraib dari Ibnu Abbas dia berkata, "Bibiku, Maimunah telah menceritakan kepadaku, dia berkata, 'Aku pernah membawa air mandi kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam karena junub, Lalu beliau membasuh dua tapak tangan sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangan ke dalam wadah berisi air, lalu menyiramkan air tersebut ke atas kemaluan serta membasuhnya dengan tangan kiri. Setelah itu, beliau menggosokkan tangan kiri ke tanah dengan pijatan yang kuat, lalu berwudhu sebagaimana yang biasa dilakukan untuk mendirikan shalat. Kemudian beliau menuangkan air yang diciduk dengan dua telapak tangan ke kepala sebanyak tiga kali sepenuh telapak tangan. Lalu beliau membasuh seluruh tubuh, lalu beralih dari tempat tersebut dan membasuh kedua kaki, kemudian aku mengambilkan handuk untuk beliau, tetapi beliau menolaknya." Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ash-Shabbah, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Abu Kuraib, al-Asyajj, dan Ishaq semuanya dari Waki' --lewat jalur periwayatan lain--, dan telah menceritakan kepada kami tentangnya Yahya bin Yahya dan Abu Kuraib keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah keduanya dari al-A'masy dengan sanad ini, dan tidaklah dalam hadits keduanya lafazh, "Menyiramkan air tiga kali sepenuh telapak tangan pada kepala." Dan dalam hadits Waki' terdapat gambaran wudhu seluruhnya. Dia menyebutkan berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Dan dalam hadits Abu Mu'awiyah tidak menyebutkan handuk." (HR. Muslim no. 476)

4. Menggosokkan telapak tangan kiri ke tanah

Riwayat dari Maimunah radhiyallahu ‘anha :

"Telah menceritakan kepadaku Ali bin Hujras-Sa'di telah menceritakan kepadaku Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami al-A'masy dari Salim bin Abi al-Ja'di dari Kuraib dari Ibnu Abbas dia berkata, "Bibiku, Maimunah telah menceritakan kepadaku, dia berkata, 'Aku pernah membawa air mandi kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam karena junub, Lalu beliau membasuh dua tapak tangan sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangan ke dalam wadah berisi air, lalu menyiramkan air tersebut ke atas kemaluan serta membasuhnya dengan tangan kiri. Setelah itu, beliau menggosokkan tangan kiri ke tanah dengan pijatan yang kuat, lalu berwudhu sebagaimana yang biasa dilakukan untuk mendirikan shalat. Kemudian beliau menuangkan air yang diciduk dengan dua telapak tangan ke kepala sebanyak tiga kali sepenuh telapak tangan. Lalu beliau membasuh seluruh tubuh, lalu beralih dari tempat tersebut dan membasuh kedua kaki, kemudian aku mengambilkan handuk untuk beliau, tetapi beliau menolaknya." Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ash-Shabbah, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Abu Kuraib, al-Asyajj, dan Ishaq semuanya dari Waki' --lewat jalur periwayatan lain--, dan telah menceritakan kepada kami tentangnya Yahya bin Yahya dan Abu Kuraib keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah keduanya dari al-A'masy dengan sanad ini, dan tidaklah dalam hadits keduanya lafazh, "Menyiramkan air tiga kali sepenuh telapak tangan pada kepala." Dan dalam hadits Waki' terdapat gambaran wudhu seluruhnya. Dia menyebutkan berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Dan dalam hadits Abu Mu'awiyah tidak menyebutkan handuk." (HR. Muslim no. 476)

5. Berwudhu

Mayoritas para ulama berpendapat bahwa mengambil air wudhu saat mandi junub hukumnya sunnah, tidaklah wajib. Karena mereka memandang bahwa ber wudlu ketika melakukan mandi junub/janabah semuanya hanyalah diambil dari riwayat Rasulullah. Sedangkan segala hal tentang perbuatan nabi, tidaklah dijadikan sebuah hukum yang bersifat wajib. Demikianlah pendapat yang diutarakan/dikemukakan oleh Al-Imam An-Nawawi, Ibn Batthal, Ashy-Syaukani dan beberapa ulama lainnya. (lihat pada : Nailul Authar, 1/273)

Adapun dalam tata cara berwudhu ketika ingin melaksanakan mandi Junub, para ulama juga berbeda memiliki perbedaan pendapat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa adalah sunnah saat mandi junub dengan mengakhirkan mandi junub dengan mencuci kedua telapak kaki. Demikian menurut pendapat Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah. (lihat pada : Nailul Authar, 1/271)

Namun jika dilihat dari sudut pandang berbagai hadits yang ada, maka akan kita temukan bahwa berwudhu ketika mandi janabah memiliki beberapa cara yang berbeda, yaitu:

Pertama : Berwudhu secara sempurna seperti wudhu ketika hendak shalat. Dalil ini terdapat pada hadist Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

"Telah menceritakan kepadaku Ali bin Hujras-Sa'di telah menceritakan kepadaku Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami al-A'masy dari Salim bin Abi al-Ja'di dari Kuraib dari Ibnu Abbas dia berkata, "Bibiku, Maimunah telah menceritakan kepadaku, dia berkata, 'Aku pernah membawa air mandi kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam karena junub, Lalu beliau membasuh dua tapak tangan sebanyak dua atau tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangan ke dalam wadah berisi air, lalu menyiramkan air tersebut ke atas kemaluan serta membasuhnya dengan tangan kiri. Setelah itu, beliau menggosokkan tangan kiri ke tanah dengan pijatan yang kuat, lalu berwudhu sebagaimana yang biasa dilakukan untuk mendirikan shalat. Kemudian beliau menuangkan air yang diciduk dengan dua telapak tangan ke kepala sebanyak tiga kali sepenuh telapak tangan. Lalu beliau membasuh seluruh tubuh, lalu beralih dari tempat tersebut dan membasuh kedua kaki, kemudian aku mengambilkan handuk untuk beliau, tetapi beliau menolaknya." Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ash-Shabbah, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Abu Kuraib, al-Asyajj, dan Ishaq semuanya dari Waki' --lewat jalur periwayatan lain--, dan telah menceritakan kepada kami tentangnya Yahya bin Yahya dan Abu Kuraib keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah keduanya dari al-A'masy dengan sanad ini, dan tidaklah dalam hadits keduanya lafazh, "Menyiramkan air tiga kali sepenuh telapak tangan pada kepala." Dan dalam hadits Waki' terdapat gambaran wudhu seluruhnya. Dia menyebutkan berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidung. Dan dalam hadits Abu Mu'awiyah tidak menyebutkan handuk." (HR. Muslim no. 476)

Kedua : mengambil air wudhu seperti wudhunya orang yang hendak mengerjakan shalat, dan di akhiri dengan mencuci kedua kaki setelah mandi. Juga dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:


حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ مَيْمُونَةَ قَالَتْ
سَتَرْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَغْتَسِلُ مِنْ الْجَنَابَةِ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ صَبَّ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَغَسَلَ فَرْجَهُ وَمَا أَصَابَهُ ثُمَّ مَسَحَ بِيَدِهِ عَلَى الْحَائِطِ أَوْ الْأَرْضِ ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ غَيْرَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى جَسَدِهِ الْمَاءَ ثُمَّ تَنَحَّى فَغَسَلَ قَدَمَيْهِ
تَابَعَهُ أَبُو عَوَانَةَ وَابْنُ فُضَيْلٍ فِي السَّتْرِ


"Telah menceritakan kepada kami 'Abdan berkata, telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah berkata, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al A'masy dari Salim bin Abu Al Ja'd dari Kuraib dari Ibnu 'Abbas dari Maimunah ia berkata, "Aku menutupi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau sedang mandi junub. Beliau mencuci kedua tangannya, lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya dan apa yang terkena (mani). Beliau kemudian menggosokkan tangannya ke dinding atau tanah. Kemudian berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat kecuali kedua kakinya. Kemudian beliau mengguyurkan air ke seluruh badannya. Kemudian menyudahi dengan mencuci kedua kakinya." Hadits ini dikuatkan oleh Abu 'Awanah dan Ibnu Fudlail dalam masalah tabir (penutup)." (HR. Bukhari No. 272)

Ketiga : Berwudhu seperti wudhu ketika hendak shalat, tanpa mengusap kepala. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:


أَخْبَرَنَا عِمْرَانُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ هُوَ ابْنُ سَمَاعَةَ قَالَ أَنْبَأَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ وَعَنْ عَمْرِو بْنِ سَعْدٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ عُمَرَ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْغُسْلِ مِنْ الْجَنَابَةِ وَاتَّسَقَتْ الْأَحَادِيثُ عَلَى هَذَا يَبْدَأُ فَيُفْرِغُ عَلَى يَدِهِ الْيُمْنَى مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ يُدْخِلُ يَدَهُ الْيُمْنَى فِي الْإِنَاءِ فَيَصُبُّ بِهَا عَلَى فَرْجِهِ وَيَدُهُ الْيُسْرَى عَلَى فَرْجِهِ فَيَغْسِلُ مَا هُنَالِكَ حَتَّى يُنْقِيَهُ ثُمَّ يَضَعُ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى التُّرَابِ إِنْ شَاءَ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى حَتَّى يُنْقِيَهَا ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ ثَلَاثًا وَيَسْتَنْشِقُ وَيُمَضْمِضُ وَيَغْسِلُ وَجْهَهُ وَذِرَاعَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ رَأْسَهُ لَمْ يَمْسَحْ وَأَفْرَغَ عَلَيْهِ الْمَاءَ فَهَكَذَا كَانَ غُسْلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا ذُكِرَ


"Telah mengabarkan kepada kami 'Imran bin Yazid bin Khalid dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abdullah yaitu Ibnu Sama'ah dia berkata; Telah memberitakan kepada kami Al Auza'i dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Aisyah Radliyallahu'anha juga dari Amr bin Sa'ad dari Nafi' dari Ibnu Umar bahwa Umar bin Khatthab pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. tentang mandi junub. Beliau memulainya dengan menyiram tangan kanannya dua kali -atau tiga kali- kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana, lalu menyiramkan air dengan tangan kanan tersebut ke kemaluannya dan tangan kirinya pada kemaluannya, lalu membersihkannya sampai bersih. Kemudian beliau menepukkan tangan kirinya ke tanah bila beliau berkehendak. Kemudian menyiram tangan kirinya sampai bersih, lalu mencuci kedua tangannya sampai bersih dan memasukkan air ke hidung kemudian mengeluarkannya. Lalu beliau membasuh mukanya serta kedua lengannya tiga kali-tiga kali. Ketika sampai pada giliran mengusap kepala, beliau tidak melakukannya, lalu menyiramkan air pada kepalanya. Begitulah cara mandi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. sebagaimana yang disebutkan." (HR. Nasai No. 419"

Nampak dari hadits-hadits di atas, bahwa ketiga cara tersebut semuanya sunnah untuk dilakukan. Karena masing-masingnya didasari oleh hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikianlah salah satu bentuk penggabungan (jama’) terhadap hadits-hadits diatas yang dilakukan Al-Imam As-Sindi rahimahullah dalam Syarh Sunan An-Nasa’i (1/225), karya beliau.

6. Menyela-nyela pangkal rambut dengan jari-jemari hingga kulit kepala terasa basah

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mandi karena janabat, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya."(HR. Bukhari No. 240)

7. Menuangkan air ke kepala sebanyak tiga kali

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari 'Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mandi karena janabat, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya." (HR. Bukhari No. 240)

Caranya, tuangan air yang pertama untuk bagian kanan kepala, kemudian tuangan yang kedua untuk bagian kiri kepala, lalu yang ketiga untuk bagian tengah kepala. Cara ini disebutkan dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ حَنْظَلَةَ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ دَعَا بِشَيْءٍ نَحْوَ الْحِلَابِ فَأَخَذَ بِكَفِّهِ فَبَدَأَ بِشِقِّ رَأْسِهِ الْأَيْمَنِ ثُمَّ الْأَيْسَرِ فَقَالَ بِهِمَا عَلَى وَسَطِ رَأْسِهِ

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Hanzhalah dari Al Qasim dari 'Aisyah berkata, "Jika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mandi janabat, beliau minta diambilkan bejana sebesar bejana yang digunakan untuk memerah susu. Beliau lalu mengambil air dengan telapak tangannya dan mengguyurkannya dimulai dari sisi sebelah kanan lalu sebelah kiri. Kemudian menuangkan dengan keduanya pada bagian tengah kepala." (HR. Al-Bukhari no. 250, Muslim no. 478)

Inilah cara yang dipilih oleh sebagian ulama besar seperti Al-Hafizh Ibnu Hajar, Al-Qurthubi, As-Sinji, Asy-Syaukani, dan yang lainnya (Lihat Nailul Authar, 1/270)

8. Menyiramkan air ke seluruh tubuh

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدْ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ
و حَدَّثَنَاه قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ح و حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ كُلُّهُمْ عَنْ هِشَامٍ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ وَلَيْسَ فِي حَدِيثِهِمْ غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ فَبَدَأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ ذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ وَلَمْ يَذْكُرْ غَسْلَ الرِّجْلَيْنِ


"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah dia berkata, "Dahulu apabila Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam mandi hadas karena junub, maka beliau memulainya dengan membasuh kedua tangan. Beliau menuangkan air dengan menuangkan air dengan tangan kanan ke atas tangan kiri, kemudian membasuh kemaluan dan berwudhu dengan wudhu untuk shalat. Kemudian beliau menyiram rambut sambil memasukkan jari ke pangkal rambut sehingga rata. Hingga ketika selesai, beliau membasuh kepala sebanyak tiga kali, lalu beliau membasuh seluruh tubuh dan akhirnya membasuh kedua kaki. Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Zuhair bin Harb keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir --lewat jalur periwayatan lain--, dan telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir --lewat jalur periwayatan lain--, dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair semuanya dari Hisyam dalam sanad ini, dan dalam lafazh mereka tidak ada ungkapan, 'Membasuh kedua kakinya', dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mandi karena junub, maka beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian menyebutkan sebagaimana hadits Abu Mu'awiyah, namun tidak menyebut, 'membasuh kedua kakinya.'" (HR. Muslim no. 474)

9. Mencuci kedua kaki

Jika air sudah diguyurkan secara merata ke seluruh tubuh, maka yang terakhir adalah mencuci kedua kaki. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah dia berkata, "Dahulu apabila Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam mandi hadas karena junub, maka beliau memulainya dengan membasuh kedua tangan. Beliau menuangkan air dengan menuangkan air dengan tangan kanan ke atas tangan kiri, kemudian membasuh kemaluan dan berwudhu dengan wudhu untuk shalat. Kemudian beliau menyiram rambut sambil memasukkan jari ke pangkal rambut sehingga rata. Hingga ketika selesai, beliau membasuh kepala sebanyak tiga kali, lalu beliau membasuh seluruh tubuh dan akhirnya membasuh kedua kaki. Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Zuhair bin Harb keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir --lewat jalur periwayatan lain--, dan telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir --lewat jalur periwayatan lain--, dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair semuanya dari Hisyam dalam sanad ini, dan dalam lafazh mereka tidak ada ungkapan, 'Membasuh kedua kakinya', dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mandi karena junub, maka beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian menyebutkan sebagaimana hadits Abu Mu'awiyah, namun tidak menyebut, 'membasuh kedua kakinya.'" (HR. Muslim no. 474)

Demikian urutan tata cara mandi janabah yang sempurna. Jika seorang yang junub, atau wanita yang selesai dari haidh atau nifas telah selesai melakukannya, maka ia telah suci dari hadats besar.

Hendaknya orang yang mandi janabah memperhatikan bagian-bagian tubuh yang rawan tidak terkena air, seperti ketiak, pusar, bagian dalam telinga, dan bagian-bagian lainnya.

MANDI BAGI WANITA YANG TELAH SUCI DARI HAIDH DAN NIFAS


Mandi bagi wanita yang telah suci dari haidh dan nifas tata caranya sama dengan tata cara mandi janabah. Namun disunnahkan bagi mereka untuk mewangikan bagian/daerah mengalirnya darah, baik dengan minyak wangi atau dengan jenis wewangian lainnya. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ حَفْصَةَ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ أَوْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كُنَّا نُنْهَى أَنْ نُحِدَّ عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلَاثٍ إِلَّا عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا وَلَا نَكْتَحِلَ وَلَا نَتَطَيَّبَ وَلَا نَلْبَسَ ثَوْبًا مَصْبُوغًا إِلَّا ثَوْبَ عَصْبٍ وَقَدْ رُخِّصَ لَنَا عِنْدَ الطُّهْرِ إِذَا اغْتَسَلَتْ إِحْدَانَا مِنْ مَحِيضِهَا فِي نُبْذَةٍ مِنْ كُسْتِ أَظْفَارٍ وَكُنَّا نُنْهَى عَنْ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ
قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ رَوَاهُ هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ حَفْصَةَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin 'Abdul Wahhab berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Hafshah berkata, Abu 'Abdullah atau Hisyam bin Hassan berkata dari Hafshah dari Ummu 'Athiyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata, "Kami dilarang berkabung atas kematian di atas tiga hari kecuali atas kematian suami, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. Selama masa itu dia tidak boleh bersolek, memakai wewangian, memakai pakaian yang berwarna kecuali pakaian lurik (dari negeri Yaman). Dan kami diberi keringanan bila hendak mandi seusai haid untuk menggunakan sebatang kayu wangi. Dan kami juga dilarang mengantar jenazah." Abu 'Abdullah berkata, Hisyam bin Hassan meriwayatkan dari Hafshah dari Ummu 'Athiyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam." (HR. Muslim no. 302)

Mewangikan bagian tubuh tempat mengalirnya darah berlaku untuk semua wanita, baik wanita yang berstatus sebagai istri atau gadis. Hal ini tujuannya adalah untuk menghilangkan aroma yang tidak sedap. Demikian menurut Al-Hafizh Ibnu Hajar, dan juga An-Nawawi (Lihat Fathul Bari 3/239, Al-Minhaj 4/14)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Bila wanita yang mandi haidh tidak memakai wewangian pada daerah tempat mengalirnya darah padahal memungkinkan baginya untuk memakainya, maka hukumnya makruh.” (Lihat Al-Minhaj 4/14)

©2013 Copyright Ciniki Ronk A. ILLank Written By A. ILLank

Khamis, 11 Julai 2013

Riak


11072013




Sekilas Riak di air aku tahu jantan atau betina. Itu adalah bidalan menunjukkan betapa hebatnya seseorang itu. Namun riak di hati  adalah satu yang amat menakutkan/merugikan  kerana sifat riak akan mendatangkan kemurkaan Allah. Riak datang tanpa disedari, riak datang dengan sekelip mata. Kita menjadi riak dengan kebajikan yang kita lakukan. Kita berasa bangga dengan apa yang kita lakukan. Kita merasa begitu hebat dengan pencapaian kita.  Memang sukar kita hendak melepaskan daripada perasaan riak ini. Mentelahan lagi apabila hati telah rosak dan mati.  Akibatnya   tertolak segala amalan dengan adanya perasaan riak di hati. Oleh itu mari kita  bermuhasabah diri agar terhindar daripada sifat ini dengan beristigfar, bertaubat memohon ampun kepada Allah agar terhindar daripada persaan riak yang diibaratkan seperti api dalam sekam. Membakar dalam senyap dan di akhirat kita bangkrup amal.

Ahad, 24 Julai 2011

10 Persediaan menyambut Ramadan


24072011



ALhamdulillah, kurang seminggu, kita akan menyambut kedatangan Ramadan Karim, Ramadan al-Mubarak. Semoga amalan Ramadan kita pada tahun  ini akan lebih baik daripada amalan Ramadan kita di tahun yang lalu. Bersama-sama ini az bawakan bingkisan yang di petik daripada blog ust Suhaimi: zadud-duat.blogspot.com)



Bagaimanakah cara terbaik menyambut ketibaan bulan yang mulia ini? Hal ini supaya seorang muslim itu tidak leka di dalam musim beramal ini dan semoga dia termasuk orang yang berlumba-lumba dan bersaing di dalam beramal ibadah di dalam bulan ini. Firman Allah: Maka hendaklah berlomba-lomba orang yang berlomba-lomba”. (Al-Mutaffifin: 26)

Seorang muslim sewajarnya menyambut Ramadhan dengan melakukan perkara berikut:

1.Berdoa supaya Allah menyampaikan anda ke bulan Ramadhan dalam keadaan yang sihat sejahtera supaya giat dan cergas beribadah kepada Allah; berpuasa, qiam, zikir. 

Dari Anas bin Malik r.a berkata: “Nabi saw apabila tiba bulan Rejab baginda akan berdoa: “ Ya Allah berkatilah kami di bulan Rejab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan”. (Ahmad dan Tabrani)

Para Salafussoleh berdoa kepada Allah supaya mempertemukan mereka ke bulan Ramadhan, kemudian berdoa supaya mereka dapat menyambut Ramadhan. Apabila kelihatan anak bulan Ramadhan mereka bergegas berdoa dengan berkata: “Allah Maha Besar, Ya Allah anugerahilah kami keamanan, keimanan, keselamatan dan Islam. Limpahkanlah kami taufik seperti yang Engkau sukai dan redhai, Tuhanku dan TuhanMu adalah Allah”. (Termizi, Darimi dan disahihkan oleh Ibn Hibban)

2. Panjatkan pujian dan syukur kerana mempertemukannya kepada Ramadhan

Menurut Imam Nawawi Rahimahullah di dalam Kitab Al-Azkar: “Ketahuilah bahawa Allah sangat menyukai orang yang apabila memperolehi nikmat yang zahir dan mengelakkan daripada terkena sesuatu kecelakaan yang zahir dia akan bersujud dan memuji-muji Allah kerana syukur kepadaNya”.

Di antara nikmat yang paling besar yang Allah kurniakan kepada hamba ialah taufik dan hidayah untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Justeru suatu nikmat yang besar apabila seorang tiba bulan Ramadhan dalam keadaan kesihatan yang baik. Dengan itu sewajarnya dia bersyukur dan memuji Allah sebagai pemberi nikmat  dan kelebihan kepadanya. Berilah pujian sebanyak-banyaknya sepertimana yang patut dilakukan kepada Allah SWT yang memiliki keagungan dan ketinggian kekuasaan.

3. Bergembira dan suka dengan kedatangan Ramadhan. 

Satu riwayat yang sahih dari Rasulullah saw, bahwa baginda akan menggembirakan para sahabat dengan kedatangan bulan Ramadhan sambil bersabda:“Telah datang bulan Ramadhan, bulan yang pernah keberkatan yang Allah wajibkan puasa di dalamnya, di bulan ini dibuka pintu syurga dan ditutup pintu  neraka”. (Ahmad)

Para Salafussoleh yang terdiri dari para Sahabat dan Tabien sangat memberi perhatian dengan kedatangan bulan Ramadhan serta bergembira dengan ketibaannya kerana mereka gembira menerima berita yang paling besar tentang hampirnya bulan Ramadhan yang merupakan musim ibadat dan turunnya rahmat.

4. Berazam dan merancang aktiviti supaya dapat mengambil manfaat dari Ramadhan.

 Apa yang menyedihkan ramai orang termasuk orang yang beragama merancang dengan teliti tentang urusan dunia, tetapi tidak ramai yang berbuat demikian dalam urusan akhirat. Ini disebabkan tiada kesedaran tentang tugas dan tanggungjwab mukmin di dalam kehidupan ini, lupa atau leka bahawa seorang muslim memperolehi peluang yang banyak bersama Allah dan temu janji penting untuk mendidik jiwanya sehingga teguh di atas urusan ini. Di antara contoh rancangan kepada akhirat ialah, rancangan untuk memenuhi Ramadhan dengan ketaatan dan ibadah. Justeru seorang muslim hemdaklah menentukan agenda atau program praktikal untuk memenuhi siang dan malam Ramadhan dengan ibadah kepada Allah. Pesanan yang anda tatap ini membantu anda untuk memenuhi Ramdhan dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Insya Allah.  

5. Menyematkan tekad dan azam yang teguh untuk memenuhi dan memaksimakan masa di bulan Ramadhan dengan amalan soleh

Oleh itu orang yang benar dengan keimanan kepada Allah pastilah Allah akan menolong dan memudahkan untuknya berada di jalan yang baik. Firman Allah: “Padahal jika mereka benar-benar (beriman) kepada Allah, pastilah yang demikian itu lebih baik baginya”. (Muhammad: 21)

6. Berilmu pengetahuan tentang hukum-hakam Ramadhan kerana seorang mukmin yang menyembah Allah wajib mempunyai pengetahuan dan tidak dibenarkan sama sekali jahil tentang perkara-perkara fadhu yang telah Allah wajibkan ke atas hambaNya.

 Oleh itu tentang puasa Ramadhan, seorang muslim sewajarnya mempelajari permasalahan dan hukum puasa supaya ibadah puasanya betul dan diterima Allah. Firman Allah: “Maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui”. (Al-Anbiya’: 7)  

7. Kita hendaklah menyambut ketibaan Ramdhan dengan azam untuk meninggalkan noda dan dosa serta bertaubat dengan sebenar-benarnya daripada semua keburukan, menyesal dan tidak mengulanginya semula

Ramadhan adalah bulan taubat. Justeru jika tidak bertaubat pada bulan ini bila lagi mahu bertaubat? Firman Allah: “Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung”. (An-Nur: 31)

8. Mempersiapkan jiwa dan ruh melalui pembacaan dan ulangkaji ke atas buku, artikel dan mendengar kaset dan cd ceramah agama berkenaan fadilat dan hukum-hakam puasa sehingga jiwa benar-benar bersedia untuk melakukan ketaatan dan ibadah. 

Nabi saw ketika mempersiapkan jiwa para sahabatnya untuk merebut kelebihan bulan ini dengan telah berpesan semasa di penghujung Sya’ban: “Telah datang kepada kamu bulan Ramadhan..” (Ahmad dan Nasai)


9. Bersedia dengan sebaik-baiknya untuk gerak kerja dakwah:

-          Menyampaikan beberapa pesanan dan tazkirah dengan pengisian yang baik di masjid dan surau tempatan.
-          Mengedarkan risalah dan buletin ringkas yang berkaitan Ramadhan kepada para jemaah dan penduduk tempatan
-          Menyediakan hadiah Ramadhan sekadar kemampuan anda dan yang bersesuaian seperti hadiah cd, buku, majalah dan sebagainya. Tulislah ini adalah hadiah Ramadhan.
-          Mengingati orang miskin dan fakir dan sentiasa bersedekah dan berzakat kepada mereka.  

10.       menyambut Ramadhan dengan membuka lembaran putih dan bersinar bersama:
-          Allah dengan bertaubat
-          Rasul saw dengan mentaati apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang dan ditegah
-          Ibubapa, jiran tetangga, kaum kerabat, suami isteri, anak-anak dengan berbuat baik dan menghubungkan silaturrahim.
-          Masyarakat yang anda hidup bersamanya dengan menjadi hamba yang soleh dan berguna.  Sabda nabi saw: “Sebaik-baik manusia ialah yang paling berguna kepada manusia (masyarakat)”.



Demikian langkah yang diambil oleh seorang muslim semasa menyambut ramadhan seakan-akan seperti bumi yang kemarau menantikan hujan, pesakit yang menantikan kedatangan doktor yang akan merawat dan kekasih yang menanti kedatangan kekasih yang berjauhan.

Ya Allah, sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.



Khamis, 12 Mei 2011

makanan Magribi


120511
Mari kilta lihat makanan orang Maghribi ini. Penuh dengan warna warni nampak macam lazat. Gambar makanan ini adalah  bingkisan daripada anak saudaraku yang kini sedang belajar di University Hasan Thani Ain Chock,Casablanca Maghribi.

nasi di tengah-tengah dan dikelilingi dengan lobak, salad, tomato, keladi, kentang dan lain-lain.
Semuanya di rebus, nampak lazat juga tu
Ingatkan buah-buahan tetapi itu lah dia.


macam Ayam Golek nampak
rasanya macam rendang orang ns
nyum nyum nyum



ni pulak macam buah ciku

Serta Kami katakan: Makanlah dari benda-benda yang baik yang Kami kurniakan kepada kamu, dan janganlah kamu melampaui batas padanya, kerana dengan yang demikian kamu akan ditimpa kemurkaanKu; dan sesiapa yang ditimpa kemurkaanKu, maka sesungguhnya binasalah ia.
 QS: Taha:20:81 

Dan Dia lah (Allah) yang menjadikan (untuk kamu) kebun-kebun yang menjalar tanamannya dan yang tidak menjalar; dan pohon-pohon tamar (kurma) dan tanaman-tanaman yang berlainan (bentuk, rupa dan) rasanya; dan buah zaiton dan delima, yang bersamaan (warnanya atau daunnya) dan tidak bersamaan (rasanya). Makanlah dari buahnya ketika ia berbuah, dan keluarkanlah haknya (zakatnya) pada hari memetik atau menuainya; dan janganlah kamu melampau (pada apa-apa jua yang kamu makan atau belanjakan); sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampau.
QS: al-An'am:6:141


Selasa, 12 Oktober 2010

Gelap yang Lima

121010
Abu Bakar As-Siddiq bekata:
GELAP ada 5, PELITANYA 5.

1.Cinta kpd dunia adaleh gelap.Pelitanya adalah tqwa.

2.Dosa adalah gelap. Pelitanya adalah taubat.

3.Kubur adalah gelap. Pelitanya bacaan Laailahaillallah Muhammadurrasulullah.

4.Akhirat adalah gelap. Pelitanya amal soleh.

5.Jembatan di atas neraka adalah gelap. Pelitanya adalah yakin
(yakin kpd Allah,
yakin adanya syurga & neraka
 beriman kpd perkara yg ghaib & tidak ada keraguan padanya).

sumber: FB-Ustazah Siti Nor Bahyah Mahamood

Sabtu, 2 Oktober 2010

SUAMI YANG BERJAYA

021010

Salam Sayang. Beberapa hari yang lalu aku memaparkan ciri-ciri isteri yang dibenci suami, kali ini dipaparkan pula ciri-ciri suma yang berjaya.




From the album: CIRI-CIRI SUAMI YANG BERJAYA

By -Tok Wan


Kebahagiaan keluarga merupakan tunjang bagi kejayaan seseorang. Melalui keluarga akan nanti melahirkan ulama, cendiakawan, usahawan atau pimpinan yang unggul.



Suami dalam keluarga memainkan peranan penting dalam memimpin seisi keluarga. Melalui kepimpinan suami itulah mempengaruhi kejayaan Dan kebahagiaan sebuah keluarga.



Bagaimanakah ciri-ciri suami yang berjaya?



Bagi menjawab persoalan ini Kita perlu menyelusuri sirah Rasulullah s.a.w. Sebagai seorang suami yang berjaya malah Baginda mempunyai ciri-ciri suami idaman seluruh wanita.



Ciri-ciri tersebut termasuk:



1- Menyayangi isteri dengan sepenuh hati



Rasulullah s.a.w. Menyayangi Khadijah r.a. Dengan sepenuh hati kerana isterinya merupakan satu nikmat Allah terbesar yang dikurniakan kepada Rasulullah s.a.w. Baginda amat menyayanginya kerana:



Khadijah tinggal bersama Baginda selama suku abad Dan mereka sama-sama merasai saat-saat suka duka.

~Dia membantu Baginda ketika suasana yang getir Dan sukar.

~Dia sama-sama membantu Baginda menyebarkan risalah Allah.

~Dia menyertai Baginda dalam jihad menegak agama Allah.

~Dia mengorbankan kepentingan diri Dan harta bendanya.



Rasulullah s.a.w. Bersabda: “Dia, Khadijah beriman denganku ketika orang ramai mengkufuriku, dia mempercayaiku ketika orang ramai mendustakanku, dia berkongsi denganku harta bendanya ketika orang ramai menghalangku.” (Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad 6/118)



2- Romantik



Rasulullah s.a.w. Juga merupakan seorang yang romantik. Bagaimana romantiknya Rasulullah?



~Tidur bersama isteri dalam satu selimut – Daripada Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. Dan Aisyah r.a., selalu mandi bersama dalam satu bekas. Dan pernah suatu ketika Baginda tidur dengan Aisyah dalam satu selimut, tiba-tiba Aisyah bangun. Baginda kemudian bertanya, “Mengapa engkau bangun?” Jawab Aisyah, “Kerana saya haid wahai Rasulullah,” Sabda Rasulullah, “Kalau begitu, pergilah Dan pakaikan kain Dan dekatlah kembali kepadaku.” Aisyah pun masuk, lalu berselimut bersama Baginda.” (Riwayat Sa’id bin Manshur)



~Saling memakaikan wangian – Aisyah berkata: “Sesungguhnya Nabi s.a.w. Apabila meminyakkan badannya, Baginda akan memulai dengan auratnya, menggunakan nurah (sejenis serbuk pewangi) Dan isteri Baginda meminyakkan bahagian lain daripada tubuh Rasulullah s.a.w.” (Riwayat Ibnu Majah)



~Mandi bersama isteri – Daripada Aisyah r.a. Beliau berkata, “Aku pernah mandi bersama Nabi s.a.w., menggunakan satu bekas. Kami bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bekas tersebut).” (Riwayat Abdurrazaq Dan Ibnu Abu Syaibah)



~Minum menggunakan bekas yang sama – Daripada Aisyah r.a. Dia berkata, “Saya pernah minum daripada cawan yang sama walaupun ketika haid. Nabi mengambil cawan tersebut Dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut, lalu Baginda minum. Kemudian saya mengambil cawan tersebut lalu menghirup airnya, kemudian Baginda mengambilnya daripada saya, lalu Baginda meletakkan mulutnya pada tempat saya letakkan mulut saya, lalu Baginda pun menghirupnya.” (Riwayat Abdurrazaq Dan Sa’id bin Manshur)



~Membelai isteri – “Adalah Rasulullah s.a.w. Tidaklah berlalu setiap Hari melainkan Baginda mesti mengelilingi kami semua (isterinya) seorang demi seorang Baginda menghampiri Dan membelai kami tetapi tidak bersama (bersetubuh) sehingga Baginda singgah ke tempat isteri yang menjadi giliran Baginda, lalu Baginda bermalam di sana.” (Riwayat Ahmad)



~Mencium isteri

Daripada Hafshah, puteri Umar r.ha. : “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. Mencium isterinya sekalipun sedang berpuasa.” (Riwayat Ahmad)

Berbaring di pangkuan isteri – Daripada Aisyah r.a., “Nabi s.a.w. Meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haid, kemudian Baginda membaca al-Quran.” (Riwayat Abdurrazaq)



~Panggilan mesra – Rasulullah s.a.w. Memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya seperti Aisy Dan Humaira‘ (is pipi merah delima).

Menyejukkan kemarahan isteri dengan mesra – Nabi s.a.w. Memicit hidung Aisyah r.ha. Sekiranya dia marah Dan Baginda berkata, “Wahai Uwaisy, bacalah DOA: “Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku Dan lindungilah diriku daripada fitnah yang menyesatkan.” (Riwayat Ibnu Sunni)

Memberi hadiah – Daripada Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, dia berkata, “Ketika Nabi s.a.w. Berkahwin dengan Ummu Salamah, Baginda bersabda kepadanya: “Sesungguhnya aku hendak memberikan hadiah kepada Raja Najasyi sepersalinan pakaian Dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui bahawa Raja Najasyi telah meninggal dunia Dan aku mengagak hadiah itu akan dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu.” Dia (Ummu Kaltsum) berkata, “Benarlah keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah s.a.w. Dan hadiah tersebut dikembalikan kepada Baginda, lalu Baginda memberikan kepada isteri-isterinya sebotol minyak kasturi, manakala baki daripada minyak kasturi Dan pakaian tersebut Baginda beri kepada Ummu Salamah.” (Riwayat Ahmad)



3- Menghormati Dan menjaga perasaan isteri



Rasulullah s.a.w. Merupakan seorang suami yang sentiasa menghormati Dan menjaga perasaan isterinya. Suatu ketika, ketika Rasulullah hendak melaksanakan solat malam, Baginda mendekati isterinya Aisyah. Aisyah berkata: “Di tengah malam Baginda mendekatiku dan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulitku Baginda berbisik, “Wahai Aisyah, izinkan aku untuk beribadah kepada Tuhanku.”



4- Tidak berkasar dan berlemah lembut dengan isteri



Berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah s.a.w. bahawa pada suatu hari salah seorang isterinya datang dengan membawa makanan untuk dikirimkan kepada Rasulullah yang sedang berada di rumah Aisyah. Tiba-tiba Aisyah dengan sengajanya menjatuhkan makanan itu sehingga piring tersebut pecah dan makanannya jatuh berderai. Melihat sikap Aisyah tersebut, Rasulullah s.a.w. tidak berkasar dengan Aisyah sebaliknya dengan lemah lembutnya Baginda meminta Aisyah menggantikan makanan tersebut.



5- Membantu isteri



Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Aisyah r.ha. pernah ditanya seorang lelaki yang bernama Aswad tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. ketika berada di dalam rumahnya? Maka Aisyah menjawab: “Rasulullah s.a.w. sentiasa membantu ahli keluarganya melakukan kerja rumah. Dan apabila tiba masuk waktu solat, baginda keluar untuk solat.”



Demikianlah beberapa contoh bagaimana Rasulullah s.a.w. menunjukkan akhlak yang sangat mulia. Kepulangan Rasulullah s.a.w. ke rumah bukan sekadar untuk beristirehat dan bermesra dengan ahli keluarganya sahaja. Bahkan, Baginda di rumahnya juga adalah untuk membantu isterinya menguruskan rumah tangga. Inilah yang Baginda lakukan walaupun mempunyai tugas dan tanggungjawab di luar rumah.



Kesimpulannya, kita perlu mencontohi akhlak dan keperibadian Baginda tersebut. Sesibuk-sibuk kita, tidak seperti sibuknya Rasulullah s.a.w. Setinggi-tinggi pangkat kita di tempat kerja, tidaklah setinggi pangkat dan darjat Rasulullah s.a.w. Maka apakah yang menghalang kita daripada membantu meringankan tugas dan urusan isteri kita di rumah?



Betapa besarnya pengorbanan Rasulullah s.a.w. sebagai seorang suami terhadap isterinya. Maka sebagai seorang suami, contohilah sikap Baginda ini ketika bermuamalah bersama isteri. Manakala buat para isteri, ingatkan suami anda tentang ciri-ciri suami idaman. Semoga berbahagia bersama pasangan anda!



Semoga bertemu cinta hakiki di-dunia dan di akhirat di antara suami yang soleh bersama isterinya yang solehaha insya Allah, sehingga sampai ke Jannatul Firdausi – “Ya Allah perindahkanlah akhlak ku seperti mana indahnya akhlak Rasulullah s.a.w , tenangkanlah hati ku bagai tenangnya air di tasik, dan serikanlah wajahku bagai bercahayanya bulan purnama di hari berserinya wajah orang-orang beriman…. Amin”



Dipetik dari blog rakan2 seangkatan.



Salam Ukhuwah..~.

Ahad, 12 September 2010

Muhasabah diri....

120910

Hari ini masuk hari raya ketiga kita berhari raya. Justeru marilah kita sama bermuhasabag diri kepada perkara yang ingin aku berkongsi kali ini yang aku dapati daripada FB Shamsudin Yatim

'DEMI MASA' manusia selalu terlupa


1hari=24jam
Satu TAHUN ?
12 Bulan
52 Minggu
365 Hari
8760 Jam
525600 Minit
31536000 Detik

Distribusi normal manusia meninggal dunia (tahun)
< 60th
> 70th
60th - 70th
(65th)

Chart
Kebanyakan manusia meninggal dunia antara usia 60 thn-70thn (majoriti)
Puratanya manusia meninggal ± 65 th
"Baligh: Start untuk seseorang di perhitungkan amal baik atau buruknya selama hidup di dunia"
Laki-laki Baligh ± 15 tahun
Wanita Baligh ± 12 tahun
Usia Yang ada untuk kita beribadah kepada-Nya, puratanya:
Mati - Baligh = Baki Usia, :~ 65 - 15 = 50 tahun
50 tahun digunakan untuk apa?

Catatan:
50 tahun=
18250 hari=
458000 jam
12 jam siang hari
12 jam malam hari
24 jam satu hari satu malam

Gambaran kasarnya:
Mari kita muhasabah bersama..... ....!

Waktu kita tidur ± 8 jam/hari ;
Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai tidur 18250 hari x 8 jam= 146000 jam= 16 tahun 7 bulan; dibulatkan jadi 17 tahun
Logiknya: Alangkah sayangnya waktu 17 tahun habis di gunakan untuk tidur, padahal kita akan tertidur dari dunia untuk selamanya... ...

Waktu aktiviti kita di siang hari ± 12 jam
Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai untuk aktiviti:
18250 hari x 12 jam= 219000 jam = 25 tahun
Aktiviti disiang hari: Ada yang bekerja, atau bercinta, ada yang belajar atau mengajar, ada yang sekolah atau kuliah,
ada yang makan sambil jalan-jalan, dan banyak lagi.

Waktu rehat ± 4 jam
Dalam 50 tahun waktu yang dipakai untuk rehat 18250 hari x 4 jam= 73000 jam = 8 tahun
Rehat: menonton tv, atau mungkin dihabiskan termenung di buai khayalan.... .
17 tahun + 25 tahun + 8 tahun = 50 tahun

Lalu Bila Nak Beribadah???
Padahal Allah ada berfirman yang bermaksud; "Tidak KUciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKU".
Maut datang menjemput tak pernah bersahut,
Malaikat datang menuntut untuk merenggut,
Manusia tak kuasa untuk berkata-kata,
Allah Maha Kuasa atas syurga dan Neraka,
Terimalah habuanmu seadanya..
Memang benar!!! Menuntut ilmu itu ibadah, kalau niatnya untuk ibadah, tetapi kebanyakannya belajar agar mudah mencari pekerjaan.
Sekiranya belajar itu tidak membantu menambah pendapatan kita, kita tidak akan belajar...
Memang benar!!! Bekerja cari nafkah itu ibadah, tapi bekerja yang bagaimana?
Ramai orang bekerja untuk hidup bermewah-mewahan dan amat kurang sedekahnya.
" Jarang ada yang menolak untuk dipuji dan dipuja tatkala berjaya "

Lalu Bila Nak Beribadah???
Oh! mungkin solat 5 waktu itu dianggap sudah mencukupi... !
Karena kita fikir; solat wajib besar pahalanya, solat amalan pertama yang dihisab, solat jalan untuk membuka pintu syurga...
Benarkah solat kita itu mencukupi dan diterima !!?

Berapa banyak solat kita dalam 50 tahun???
1 solat = ± 10 minit ..... 5x solat = ± 1 jam
Dalam waktu 50 tahun waktu yang terpakai utk solat = 18250 hari x I jam =18250 jam= 2 tahun

Kesimpulan: waktu yang kita manfaatkan dalam 50 tahun di dunia cuma 2 tahun untuk solat ( ini kalau yg solat 10minit!
Kalau solat macam ayam patuk tanah..amacam? ) 2 tahun dari 50 tahun kesempatan kita....
itupun belum tentu solat kita bermakna berpahala dan di terima.
Dan sekiranya pahala solat kita selama 2 tahun tidak sebanding dengan perbuatan dosa-dosa kita selama 50 tahun;
dalam percakapan kita yang selalu dusta, baik yang sengaja ataupun tidak, dalam pertuturan kita yang sering mengguris
orangtua kita, dalam harta kekayaan kita yang selalu kedekut terhadap orang faqir, dalam setiap perbuatan kita yang
selalu bergelumang dosa...

Logiknya:
Bukan satu yang mustahil kita umat akhir zaman akan berhamburan di neraka untuk mendapatkan balasan kelalaian... .........
Terlalu banyak masa yang terbuang percuma selama manusia hidup di dunia dan semuanya itu akan menjadi bencana..... .......

Penyelesaian:
Tiada kata terlambat walaupun waktu berlalu cepat, isilah ia dengan sesuatu yang bermanfaat!! !!!!!
Ingatlah negeri kita...Akhirat

TAMAT
"Bukan suatu paksaan untuk di sebarluaskan"
"Saling mengingatkan sesama bukanlah hal binasa'' 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...